POLOSKAOS1

Kaos Polos, Sablon Satuan, dan Informasi Fashion, Kaos, Baju, Kemeja, Jaket, dan Tips Seputar Fashion dan Review tentang Lifestyle.

Thursday, December 25, 2014

Review Film Korea Pieta (2012)

Judul: Pieta
Release: 2012
Reviewer: Black RX
Drama | Thriller
IMDB Rating 7.2  (www.imdb.com)


Beeuuhh, telat banget gue nonton film ini, Film Korea pertama yang memenangkan penghargaan tertinggi di salah satu dari 3 festival terbaik di Dunia (Venice Film Festival)

Pieta, menceritakan tentang kehidupan Lee Kang-do seorang Debt Collector yg menggunakan cara yang tidak wajar dalam menagih hutang.
Dengan cara menyiksa fisik para pengutang yg sebagian besar merupakan seorang pengusaha UKM, dengan mematahkan tangan menggunakan alat kerja si pengutang tersebut atau dengan cara mendorong jatuh dari gedung tempat kerja, hal ini dilakukan agar si penghutang bisa klaim asuransi, dan uangnya bisa melunasi utang tsb.

Hingga suatu hari Kang-do didatangi oleh Mi-sun, yg mengaku sebagai Ibunya yg membuang nya 30 tahun lalu ketika Kang-do baru dilahirkan..
Meskipun kehadiran yg tiba2 itu sempat ditolak berkali2 oleh Kang-do, namun perlahan mencair, keluarga yg selama ini kang-do rindukan, akhirnya ia rasakan dalam sosok Mi-sun.

Kisah cinta antara Ibu dan anak meskipun mengumbar kontroversi, namun disajikan dengan indah dengan plot plot unik dari sang director Kim Ki-duk.
Semuanya tertata sangat rapih, seperti scene by scene dibangun dari suspense dan thrill dari scene sebelumnya.
Meskipun berpotensi membosankan, tapi gue sangat dibuat penasaran dengan apa yg terjadi dengan scene berikutnya.

Secara premis, tema film ini sangat umum bagi film korea, balas dendam (meskipun tidak se-ekplisit film lainnya) plus twist ending yg bikin tercengang.. tapi bagi gue, twistnya tertebak, tapi bukan twist ending yg bikin gue orgasme di ending film ini, melainkan nuansa miris, tragis juga kelam ditambah scoring yg suram.

Adegan adegan kekerasan yg di tampilkan oleh Kim Ki-duk dengan caranya sendiri, bukan dengan mutilasi atau adegan sadis, namun dengan mempermainkan perasaan penonton. meskipun adegan kekerasannya off-screen, namun tetap bisa mengekploitasi perasaan penonton. gud..



Rating Pribadi,
8,5/10
Back To Top