POLOSKAOS1

Kaos Polos, Sablon Satuan, dan Informasi Fashion, Kaos, Baju, Kemeja, Jaket, dan Tips Seputar Fashion dan Review tentang Lifestyle.

Sunday, November 9, 2014

Proses A-Z Membangun Local Brand / Clothing Line

Share kali ini masih digawangi oleh bro Dj_Nixxx dan jauh lebih kece dari post sebelumnya. Disarankan baca semua post tentang branding dulu daripada menyesal.


Idea


Semuanya pasti berawal dari ide. Misalkan untuk artikel yang sebentar lagi mau dirilis, yaitu Alpha Six II. Ini idenya memang dari ketertarikan saya akan modern warfare. Jadi saya tinggal menggabungkan inspirasi dari film semacam Black Hawk Down (kalau ngeh, ada Alpha Six disitu), lantas tracing lagi ke film militer yang klasik sekedar meneguhkan, oke ga nih dengan kode Alpha Six II? Atau mau diubah ke kode yang baru dengan soul yang baru? Karena menurut saya, penamaan yang pas itu penting. Selanjutnya kalau udah sreg, Alpha Six II lanjut ke hunting material.

Hunting


Nah disini kadang juga sering konflik. Pengennya material seperti A, yang tersedia adanya yang B. Jadi bisa molor berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan. Maklum, namanya juga baru hanya bisa memesan atau membeli dalam kuantitas sedikit. Belum bisa custom order ke pabrik. Kalau udah ketemu dan sesuai apa yang ada di bayangan, maka lanjut ke sesi berikutnya.

Traveling


Lha malah jalan-jalan gan? Iya kalau di saya emang musti begitu. Anggap aja habit. Terutama dalam setiap pergantian "season", pasti melancong kesana kemari. Jadi konsep Alpha Six II dan konsep-konsep artikel yang lainnya, saya bawa semua untuk brain storming. Atau dalam artian lain, di filter ulang.

Sampai disini mungkin sebagian baru ngeh kenapa dogma itu lama bener rilisnya hehehe. Ya memang dibawa ke idealis, ga ngotot untuk produksi massal dan kilat, jadi ya beginilah.

Filter


Masuk ke sesi filter (yang masih dalam kondisi traveling). Disini saya berusaha untuk menggali lagi ide-ide yang baru, yang sekiranya bisa dikolaborasikan dengan ide yang udah ada sebelumnya. Ibarat agan buat lagu, yang kemarin itu baru chord dasar aja, belum dimiring-miringin, belum diutak-atik karena memang idenya baru dapet segitu. Ya disini gunanya saya jadi bolang, karena seringnya ide yang udah ada bisa semakin cepat progress-nya meski itu hanya bagian kecil sekalipun.

Tempat yang paling sering saya datengin biasanya antara pantai, hutan atau sungai. Selebihnya menghabiskan waktu di peninggalan kebudayaan atau melipir ke tempat yang baru. Sekalian refreshing.

Production


Setelah prosesnya udah matang, barulah saya balik lagi ke basecamp. Berkutat lagi dengan proses pra-produksi, sample dll. Selagi proses jahit-menjahit berjalan, saya mempersiapkan desain untuk price tag. Karena ada beberapa artikel yang price tag-nya sama, ada beberapa yang butuh price tag khusus sesuai temanya. Dalam hal ini, Alpha Six II memang butuh yang khusus untuk mempertegas temanya.

Terkadang saya print sendiri tag-nya, rakit semuanya sendiri. Tapi ada juga yang outsource ke digital printing agar hasil akhirnya sesuai harapan.

Sample


Begitu sample-nya udah jadi, ya seperti biasalah. Kroscek sana sini untuk memastikan semuanya sesuai blue print yang ada. Terkadang ada minor change, major change, dan sebagainya.

Delivery


Ini tahapan yang deg-degan.Setelah tahapan dari idea-sample yang biasanya membutuhkan waktu cukup lama. pastilah sedikit sport jantung untuk lihat hasil jadinya seperti apa. Sedikit rahasia umum, meski blue print udah jelas, sample udah fix, kadang workshop suka kreatif. Bisa mengurangi, mengubah bahkan menambahkan sesuatu. Udah kaya in between life and death. Karena kalau melenceng jauh, ujung-ujungnya artikel bisa gagal rilis. Kalau masih dalam toleransi, ya lumayan bisa ditahan emosinya hehe.

Masalah teknisnya, tiap brand pasti ada caranya tersendiri. Jadi saya bahas sekilas aja.

Quality Control I


Setelah pengiriman, semua artikel dicek satu persatu untuk bagian reject. Kalau major ya hitungannya reject, kalau minor hitungannya masuk ke sesi sale. Meskipun workshop punya tahapan QC tersendiri, khususnya dalam membersihkan benang dll. Tapi saya lebih suka untuk periksa ulang. Karena meskipun udah terbungkus rapi dalam kemasan plastik, biasanya ada aja benang bandel yang masih nyempil sana sini.

Quality Control II


Setelah disortir, QC tahapan selanjutnya ya menyetrika ulang satu-persatu. Selain agar lebih rapi, di tahapan ini biasanya baru kelihatan lagi kalau ada benang bandel atau spot reject yang mungkin terlewatkan di sesi I. Begitu semuanya udah rapi, dilipat satu-persatu lantas dihitung ulang untuk yang lolos QC.

Advertising


Lagi-lagi proses do it yourself yang berlaku di dogma. Simply karena udah terbiasa mengerjakan apa-apa sendiri, dan basic saya memang graphic designer jadi lumayan membantu. Singkatnya, setelah menemukan konsep iklan yang pas, lokasi foto (kalau buat look book) juga udah ketemu, tinggal eksekusi. Sedikit catatan lagi, bukan 90% lagi tapi 100% look book-nya dogma itu bebas biaya. Kok bisa? Ya bisalah, karena memang dikondisikan untuk seolah-olah bukan foto komersial. Tapi mostly memang di area yang "bebas" foto. Ya pintar-pintar cari tempat aja.

Foto selesai, masuk ke editing dll. FYI, berhubung sifatnya "hit n run" aka foto sebanyak-banyaknya sebelum diusir satpam haha (jangan dicontoh ya), jadi stok foto bisa 50-100 bahkan lebih (hanya untuk satu artikel). Disini, letak kesulitannya paling ya di unsur cahaya yang kurang stabil. Namanya juga hit n run, masa pake stand lampu, reflektor dll? Keburu diusir namanya hehe. Jadi sesi pilah-memilah foto lumayan bikin mumet.

Field Test


Tergantung timing. Bisa jadi field test duluan, bisa jadi proses foto yang lebih dulu. Di tahapan ini, biasanya saya pakai produknya selama yang saya rasa pas. Ga ada patokan berapa hari atau berapa minggu. Kalau dirasa udah pas, udah layak rilis, field test selesai.

Pricing


Saya sengaja taruh tahapan ini di urutan sebelum rilis. Berhubung dogma itu "small brand with big values", jadi harga yang make sense tentunya jadi acuan utama. Masalah banyak yang jual overpriced, ya itu urusan masing-masing hehe. Prinsip pribadi, sebisa mungkin value yang ditawarkan lebih besar daripada uang yang buyer harus keluarkan.

Saya juga ga ribet dengan perhitungan seperti cost untuk bensinlah, listriklah dll. Meski kalau di luar negeri, waktu dan skill dihitung secara profesional. Dan di dunia pararel, mungkin dogma hitungannya masuk ke brand yang "cutting edge" karena mengerjakan semuanya hampir selalu sendiri. Tapi saya realistis aja. Saya buat dogma karena suka, titik.

Release


Atau bisa juga disebut "unleash". Karena dari tahapan awal sampai disini, membutuhkan effort dan waktu yang ga bisa dibilang sedikit. Jadi deg-degan juga pasti ada. Harapannya tentu agar artikel yang dirilis bisa diterima oleh publik, syukur-syukur pesan yang ingin disampaikan juga bisa dicerna dengan baik.

Upload satu-persatu image yang udah matang. Copywriting juga udah fix. Tinggal dirilis via tumblr, kaskus dll.

Shipping


Masih dalam koridor personal. Semua artikel yang buyer terima, kalau lihat di resi-nya pasti ada tanda tangan sama nama saya hehe (kecuali petugas tiki/jne nya ga request ttd). Itu memang semuanya masih saya sendiri yang menyiapkan dan mengirim dengan senang hati. Senang karena apa yang direncanakan dan dibuat secara susah payah, ternyata ada yang mengapresiasi. Terlebih kalau paketnya udah sampai dan ternyata feed back nya juga positif.

Follow Up


Setelah menjadi kurir, tugas selanjutnya adalah menjadi customer service. Multi tasking? indeed. Disini saya memposisikan diri sebagai teman, bukan sebagai founder agar ga ada jarak antara brand-buyer. Semua feed back, testi, masukan dll, otomatis langsung masuk ke saya tanpa ada perantara,

Karena seperti yang udah saya sebutkan dalam pembahasan sebelumnya; "branding is essentially about building a relationship between consumer and brand."

Time consuming? Absolutely. But totally worth it right?
Back To Top